
Jika membaca puisi dari Almarhum WS. Rendra dibawah, baru aku menyadari bahwa kita bukan apa2 di dunia ini, bahwa sesungguhnya apa yang kita milki saat ini dan yang bersama kita saat ini bukanlah milik kita. Semua hanya titipan Tuhan semata. Idealnya, yang namanya titipan pasti akan diambil suatu saat nanti oleh pemiliknya, bukan ?
Tapi terkadang didunia nyata ini, banyak orang yg tidak menyadari hal itu, demikian juga aku.
Suatu saat pernah aku meminjamkan sesuatu (titipan ) kepada seorang teman ,dan dengan segala cara dia menghindar pada saat titipan itu akan kuambil, berdalih dengan segala alasan, sampai akhirnya aku menyerah...
Tapi bagaimana dengan Tuhan ? bisakah kita mencari seribu alasan untuk menghindar dari-Nya ? Bisakah kita bersikeras agar titipan itu tidak diambil oleh-Nya ? Pastinya tidak !! Tuhan punya kuasa atas segala yang kita miliki, bukan ??
Jujur, adakalanya sulit menerima kata2 " Titipan " itu ...!!
Pastinya kita akan protes jika sesuatu yang sedang kita sukai diambil , terlebih lagi kita sangat menyayanginya. Tp berhak kah kita akan titipan itu ? Kita hanya ditugaskan untuk merawatnya dengan baik, menyayanginya dan mencintainya...
WS. Rendra berkata bahwa anak-anak adalah titipan Tuhan.
Bagiku, suamiku adalah titipan-Nya juga..
Aku tidak berhak penuh akan hidupnya,,,karena dia milik Tuhan.
Mungkin aku akan protes, aku akan marah, aku cemburu saat Dia diambil dariku, saat hatinya diambil dariku, saat dia berpaling dariku...namun berhak kah aku untuk marah pada Tuhan,, padahal sudah jelas2 Dia hanya titipan Tuhan untuk ku dan aku harus siap dengan segala kemungkinan terburuk.
Sulit,,tapi mau tidak mau aku harus menyadari bahwa Dia juga titipan Tuhan....dan aku tidak boleh Protes pada Tuhan , bukan ???!!!
Semoga saja Tuhan masih memberikan kesempatan yang lebih panjang kepadaku untuk bisa merawat, menyayangi dan mencintai semua titipan2 - Nya yang saat ini berada di dekatku :)) Wastumogi ...
~noteby:diahdarmadi~
* PUISI W.S RENDRA *
Sering kali aku berkata,
ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi,
mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika semua itu diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja
untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
Seolah ...
semua "derita" adalah hukuman bagiku.
Seolah ...
keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
dan menolak keputusanNya yang tak sesuaikeinginanku,
Gusti,
padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...
"ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"
(WS Rendra)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar